samuel siagian
Jumat, 15 September 2017
PKK LAMPUNG DAY, Mengunjungi Kota Lampung Sampai Mencari Ilmu Dalam Kegiatan Praktek Komunikasi.!
Jumat, 25 Agustus 2017
Kegiatan KKN Sts Candradimuka
Pengecetan kampung warna-warni bercorak sungai musi di daerah seberang ulu, khusus ny di kelurahan 7 ulu palembang. melibatkan saya dan kawan-kawan sebagai mahasiswa dari stisipol candradimuka untuk langsung terjun kelapangan kegiatan ini menyangkut Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan mendapatkan dukungan dari wawako palembang dan PT Propan sebagai produsen cat.
Kegiatan ini dimulai dari tgl 15 agustus dan berakhir sampai tgl 31 agustus, sebagai mahasiswa kami berupaya memberikan yg terbaik kepada masyarakat dan mengajak masyarakat juga agar kegiatan ini berjalan dengan lancar juga tepat.
Kampung warna-warni kami harapkan meningkatkan daya tarik Kota Palembang yang memiliki kekhasan sebagai kota yang dibelah Sungai Musi.
Kini kota Palembang memiliki potensi luar biasa karena merupakan salah satu kota tertua di Indonesia dan memiliki beragam jenis wisata, seperti kuliner, belanja, religi, sejarah, dan alam.
Selasa, 24 November 2015
OLEH:
Semester: 3
Mata Kuliah:Teori Komunikasi
Nama Dosen:Sumarni Bayu Anita, S.Sos,M.A
LATAR BELAKANG
Decoding” adalah kegiatan dalam komunikasi yang dilaksanakan oleh penerima (audience, murid), dimana penerima berusaha menangkap makna pesan yang disampaikan melalui lambang-lambang oleh sumber melalui kegiatan encoding. Seperti telah dikemukakan Hall bahwa kagiatan “decoding” ini sangat ditentukan oleh keadaan medan pengalaman penerima sendiri. Keberhasilan penerima di dalam proses “decoding” ini sangat ditentukan oleh kepiawaian sumber di dalam proses “encoding” yang dilakukan, yaitu di dalam memahami latar belakang pengalaman, kemampuan, kecerdasan, minat dan lain-lain dari penerima. Adalah sama sekali keliru apabila di dalam proses komunikasi sumber melakukan proses “encoding” berdasarkan pada kemauan dan pertimbangan pribadi tanpa memperhatikan hal-hal yang terdapat pada diri penerima seperti yang sudah disebutkan di atas, yang dalam hal ini terutama adalah medan pengalaman mereka.
Pada moment kedua, segara sesudah makna dan pesan berada pada wacana yang bermakna, yakni segera sesudah makna dan pesan itu mengambil bentuk wacana televisual, aturan formal bahasa dan wacana bebas dikendalikan, suatu pesan kini terbuka, misalnya bagi permainan polisemi.
Pada momen yang ketiga, momen decoding yang dilakukan oleh khalayak, serangkaian cara lain untuk melihat dunia (ideologi) bisa dengan bebas dilakukan. Seorang khalayak tidak dihadapkan pada peristiwa sosial mentah melainkan dengan terjemahan diskursif dari suatu peristiwa. Jika peristiwa itu bermakna bagi khalayak pastilah peristiwa itu menyertakan interpretasi dan pemahaman terhadap wacana. Jika tidak ada makna yang diambil maka boleh jadi tidak ada konsumsi.
Dengan kata lain, makna dan pesan tidak sewkedar ditrasmisikan, keduanya senantiasa diproduksi. Pertama oleh sang pelaku encoding bahan mentah kehidupan sehari-hari oleh khalayak dalam kaitannya dengan lokasinya pada wacana-wacana lainnya. Setiap moment itu pasti beroperasi dalam kondisi produksinya sendiri. Selain itu sebagaimana dijabarkan hall, momenencoding dan decoding mungkin tidak benar-benar simetris. Tidak ada yang senatiasa berkenaan dengan hasil dari proses apa yang dimaksudkan dan apa yang diterima boleh jadi tidak klop. Para professional median mungkin menginginkan decoding sama dengan encoding, namu mereka tidakbisa menjamin atau memastikan hal ini. Encoding dan decoding terbuka bagi resiprositas yang berubah-ubah, ditentukan oleh eksisitensi berbeda. Senantiasa ada kemungkinan dan kesalahpahaman.
Posisi decoding kedua adalah kode atau posisi yang dinegosiasikan. Ini kemungkinan merupakan posisi mayoritas. Posisi ketiga yang diidentifikasikan hall adalah kode oposisional. Ini merupaka posisi yang diduduki oleh pemirsa yang mengakui kode wacana televisual yang disampaikan, tetapi memutuskan untuk melakukan decodiing dalam sebuah kerangka acuan alternatif.
1. Produksi pesan penuh makna dalam wacana televisi senantiasa merupaka pekerjaan problematis. Peristiwa yang sama bisa diencoding melalui lebih dari astu macam cara. Sehingga kajian TV disini berkenaan dengan bagaimana dan mengapa struktur dan praktik produksi tertentu cenderung menghasilkan pesan tertentu, yang mewujudkan maknanya dalam bentu-bentuk tertentu dan berulang.
2. Pesan dalam komunikasi sosial selalu bersifat kompleks dalam hal stuktur dan bentuk. Ia senantiasa memuat lebih dari satu pembacaan potensial. Pesan menawarkan dan menganjurkan pembacaan tertentu atas pembacaan lainnya, namun pesan tidak pernah bisa menjadi sama sekali tertutup disekitar satu pembacaan. Pesan tetap bersifat polisemik.
3. Aktivitas memetik makna dari pesan juga merupakan sebuah praktik yang problematis, betapapun transparan dan natural tampaknya aktivita itu. Pesan meng-encoding satu car bisa senantiasa dibaca dengan cara yang berbeda.
BAB 4 PENUTUP
KESIMPULAN
Dapat saya simpulkan dekoding adalah kegiatan menerima pesan atau menyampaikan gagasan (informasi, saran, permintaan.) yang ingin disampikan kepada penerima dengan maksud tertentu. Untuk itu dia menterjemahkan gagasan tersebut menjadi simbol-simbol (proses encoding) yang selanjutnya disebut pesan (message). Pesan tersebut disampaikan melalui saluran (channel) tertentu misalnya dengan bertatap muka langsung, telepon, surat, dst. Setelah pesan sampai pada penerima, selanjutnya terjadi proses decoding, yaitu menafsirkan pesan tersebut. Setelah itu terjadilah respon pada penerima pesan. Respon tertuju pada pengirim pesan. Komunikasi sebagai proses dapat divisualisasikan dalam bentuk bagan sebagai berikut.
DAFTAR PUSTAKA
Selasa, 12 Mei 2015
5 Goes To Media, STISIPOL CANDRADIMUKA PALEMBANG
Senin, 01 Desember 2014
PENGANTAR ILMU KOMUNIKASI
Ada tiga model yang perlu diketahui :
1. Mengenal diri sendiri
4. Wilayah tersembunyi (kemampuan yang tidak di ketahui oleh orang lain). Dua konsep yang erat hubungan nya dengan wilayah tersembunyi :
6. Kepercayaan (credibility) kredibilitas adalah seperangkat persepsi tentang kelebihan yang dimiliki sumber sehingga di terimah atau di ikuti oleh khalayak (penerima).
7. Daya tarik(Attractiveness) daya tarik adalah salah satu faktor yang harus dimiliki seseorang komunikator selain kredibilitas.Faktor daya tarik banyak berhasil tidak nya komunikasi.Daya tarik bisa hal nya dalam kesamaan,dikenal baik,di sukai dan fisik nya.
8. Kekuatan (power) kekuatan adalah kepercayaan diri yang harus di miliki seseorang komunikator jika ia ingin mempengaruhi orang lain.
1. Untuk mempelajari tentang dunia sekeliling kita
2. Untuk membina hubungan yang baik di antara manusia manusia
3. Untuk menciptakan ikatan dalam kehidupan manusia
1. kinesis (gerakan badan)
a. Embles (isyarat berarti simbol yang langsung di gerakan badan)
b. Illustrators (isyarat gerakan badan untuk menjelaskan sesuatu)
c. affec discplays (dorongan emosional sehingga terpengaruh pada expresi muka)
4. Para language (isyarat yang di timbulkan dari tekanan/irama sehingga penerima dapat menerima dan dapat memahami sesuatu yang di balik apa yang di ucapkan)
6. Fostur tubuh
10. Waktu
11. Bunyi
12. Bau
a. Space order (tempat/ ruang)
a. Fear appcal (menimbulkan rasa takut kepada khalayak)
Karakter dari media massa bersifat melembaga,satu arah,meluas, dan serempak,memakai peralatan teknis atau mekanis dan bersifat terbuka.



