MAKALAH TEORI KOMUNIKASI
“
DEKODING”
OLEH:
Nama:Samuel Sondang Raya Siagian
Npm:01-14-092
Jurusan:Ilmu Komunikasi
Kelas:Reguler Sore
Semester: 3
Mata Kuliah:Teori Komunikasi
Nama Dosen:Sumarni Bayu Anita, S.Sos,M.A
Semester: 3
Mata Kuliah:Teori Komunikasi
Nama Dosen:Sumarni Bayu Anita, S.Sos,M.A
BAB 1
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
LATAR BELAKANG
Komunikasi adalah hubungan interaksi antara manusia,
baik individu maupun kelompok. Dalam kehidupan sehari-hari disadari atau tidak
disadari komunikasi adalah bagian dari kehidupan manusia itu sendiri, paling
tidak sejak ia dilahirkan sudah berhubungan dengan lingkungannya.
Hegemoni dan hegemoni tandingan
tidak akan ada tanpa adanya kemampuan khalayak untuk menerima pesan dan
membandingkan pesan tersebut dengan makna yang sebelumnya telah disimpan di
dalam ingatan mereka, proses inilah yang disebut dengan dekoding. Ketika
menerima pesan dari pihak lain kita harus melakukan decoding terhadap pesan itu
berdasarkan persepsi,pemikiran,dan pengalaman masa lalu.
RUMUSAN
KARYA TULIS
Agar dalam pembuatan makalah ini
tidak terlalu sulit maka dirumuskan masalah yaitu sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan Dekoding?
Kemampuan
khalayak untuk menerima pesan dan membandingkan pesan tersebut dengan makna
yang sebelumnya telah disimpan di dalam ingatan mereka, proses inilah yang
disebut dengan dekoding. Ketika menerima pesan dari pihak lain kita harus
melakukan decoding terhadap pesan itu berdasarkan persepsi,pemikiran,dan
pengalaman masa lalu.
2. Mengenai tentang decoding dan
contoh-nya?
Individu
yang menerima pesan iklan dari media massa yang menawarkan suatu produk maka ia
akan menghubungkan pesan iklan itu dengan berbagai produk maka ia akan
menghubungkan pesan iklan itu dengan berbgai perilaku mentalnya, contoh
keingan-nya untuk membeli produk tersebut, percakapan dengan mereka yang telah
membeli, pengetahuan-nya terhadap produk, dan fakta bahwa ia mungkin belum
pernah memiliki produk itu.
3. Posisi - Posisi khalayak melakukan
dekoding?
Ada
3 posisi menurut Hall: posisi hegemoni dominan,posisi negosiasi, dan posisi
oposisi.
-Posisi Hegemoni Dominan(dominant
hegemonic position).
Sebagai
situasi dimana media menyampaikan pesan, khalayak menerimanya, apa yang
disampaikan media secara kebetulan juga disukai khalayak.
-Posisi Negosiasi(negotiated
position).
Posisi
dimana khalayak secara umum menerima ideology dominan namun menolak
penerapannya dalam kasus-kasus tertentu.
-Posisi Oposisi (oppositional
position).
Cara
terakhir yang dilakukan khalayak dalam melakukan decoding terhadap pesan media
adalah melalui oposisi yang terjadi ketika khalayak audiensi yang kritis
mengganti atau mengubah pesan atau kode disampaikan media dengan pesan atau
kode alternatif.
TUJUAN
1. Memenuhi Tugas Mid
Semester
2. Menambah Pengetahuan
Mengenai Teori Dalam Komunikasi
3. Mengetahui dan
memahami teori-teori komunikasi terutama Dekoding
BAB
2 TEORI
Hegemoni dan hegemoni tandingan tidak akan ada tanpa
adanya kemampuan khalayak untuk menerima pesan dan membandingkan pesan tersebut
dengan makna yang sebelumnya telah disimpan di dalam ingatan mereka, proses
inilah yang disebut dengan dekoding. Ketika menerima pesan dari pihak lain kita
harus melakukan decoding terhadap pesan itu berdasarkan persepsi,pemikiran,dan
pengalaman masa lalu.
Individu
yang menerima pesan iklan dari media massa yang menawarkan suatu produk maka ia
akan menghubungkan pesan iklan itu dengan berbagai perilaku mentalnya seperti
keinginan-nya untuk membeli produk tersebut, percakapan yang dilakukan-nya
dengan mereka yang telah membeli, pengetahuan-nya terhadap produk, dan fakta
bahwa ia mungkin belum pernah memiliki dan menggunakan informasi itu kembali
ketika ia berbicara dengan orang lain mengenai produk tersebut. Semua-nya
dilakukan dengan cepat dan ia akan segera membuat keputusan mengenai bagaimana
menafsirkan pesan ketika ia harus membahas hal yang sama.
Proses decoding pesan
media merupakan hal yang penting bagi studi cultural. Kita telah mengetahui
bahwa masyarakat menerima informasi dalam jumlah besar dari kelompok eliti
masyrakat yaitu media, dan khalayak secara tidak sadar menerima, menyetujui,
atau mendukung apa yang dikemukakan ideology dominan. Para ahli teori cultural
berpandangan bahwa masyarakat harus dilihat sebagai bagian dari konteks yang
lebih besar, salah satu-nya adalah mereka yang tidak terdengar suara-nya karena
tertekan oleh pandangan dominan.
Berbagai hubungan
sosial secara hierarkis berada dalam masyrakat yang tidak imbang yang
menghasilkan situasi di mana mereka berada pada kelas sosial rendah harus
menerima pesan dari mereka yang berada pada kelas sosial yang lebih tinggi. Media
melakukan control terhadap isi pesan dengan melakukan encoding terhadap pesan.
Sebagaimana dikemukan becker, untuk dapar dimengerti maka isi media harus
diubah kedalam bentuk-bentuk simbolis. Komunikator memiliki pilihan terhadap
sejumlah kode dan symbol yang akan memengaruhi makna isi pesan bagi
penerima-nya. Karena kode,symbol dan bahasa, sadar atau tidak sadar, juga
menjadi pilihan terhadap ideology. Misalnya, seorang perancang iklan televisi
secara cermat merancang iklan untuk menciptakan gambaran atau citra tertentu
untuk mempromosikan atau menjual suatu produk, begitu pula program televise
seperti berita atau komedi.
Menurut Hall, khalayak melakukan decoding terhadap pesan
media melalui tiga kemungkinan posisi yaitu:
1) posisi hegemoni dominan;
2) negosiasi;
3)oposisi.
Posisi hegemoni dominan, Hall
menjelaskan:
1) hegemoni dominan sebagai situasi dimana
(media menyampaikan pesan, khalayak menerimanya. Apa yang disampaikan media
secara kebetulan juga disukai khalayak). Ini adalah situasi dimana media
menyampaikan pesannya dengan menggunakan kode budaya dominan dalam msyarakat;
2) Posisi Negosiasi. Dimana khalayak
secara umum menerima ideologi dominan namun menolak penerapannya dalam
kasus-kasus tertentu. Sebagaimana dikemukakan Hall, dalam hal ini khalayak
bersedia menerima ideology dominan yang bersifat umum, namun mereka akan
melakukan beberapa pengecualian dalam penerapannya yang disesuiakan dengan
aturan budaya setempat;
3) Posisi Oposisi. Cara terakhir yang
dilakukan khalayak dalam melakukan dekoding tehadap pesan media adalah melalui
“Oposisi” yang terjadi ketika khalayak audiensi yang kritis mengganti atau
mengubha pesan atau kode yang sampaikan media dengan pesan atau kode
alternatif.
Hall
meneriama fakta bahwa media membingkai pesan dengan maksud tersembunyi yaitu
untuk membujuk, namun demikian khalaya juga memilki kemampuan untuk menghindari
diri dari kemungkinan tertelan oleh ideology dominan, namun seringkali bujukan
pesan yang diterima khalayak bersifat sangat halus.
BAB
3 PEMBAHASAN ISI
1.
PROFIL
OBJEK ANALISIS
Decoding” adalah kegiatan dalam komunikasi yang dilaksanakan oleh penerima (audience, murid), dimana penerima berusaha menangkap makna pesan yang disampaikan melalui lambang-lambang oleh sumber melalui kegiatan encoding. Seperti telah dikemukakan Hall bahwa kagiatan “decoding” ini sangat ditentukan oleh keadaan medan pengalaman penerima sendiri. Keberhasilan penerima di dalam proses “decoding” ini sangat ditentukan oleh kepiawaian sumber di dalam proses “encoding” yang dilakukan, yaitu di dalam memahami latar belakang pengalaman, kemampuan, kecerdasan, minat dan lain-lain dari penerima. Adalah sama sekali keliru apabila di dalam proses komunikasi sumber melakukan proses “encoding” berdasarkan pada kemauan dan pertimbangan pribadi tanpa memperhatikan hal-hal yang terdapat pada diri penerima seperti yang sudah disebutkan di atas, yang dalam hal ini terutama adalah medan pengalaman mereka.
Decoding” adalah kegiatan dalam komunikasi yang dilaksanakan oleh penerima (audience, murid), dimana penerima berusaha menangkap makna pesan yang disampaikan melalui lambang-lambang oleh sumber melalui kegiatan encoding. Seperti telah dikemukakan Hall bahwa kagiatan “decoding” ini sangat ditentukan oleh keadaan medan pengalaman penerima sendiri. Keberhasilan penerima di dalam proses “decoding” ini sangat ditentukan oleh kepiawaian sumber di dalam proses “encoding” yang dilakukan, yaitu di dalam memahami latar belakang pengalaman, kemampuan, kecerdasan, minat dan lain-lain dari penerima. Adalah sama sekali keliru apabila di dalam proses komunikasi sumber melakukan proses “encoding” berdasarkan pada kemauan dan pertimbangan pribadi tanpa memperhatikan hal-hal yang terdapat pada diri penerima seperti yang sudah disebutkan di atas, yang dalam hal ini terutama adalah medan pengalaman mereka.
2.
PENERAPAN
TEORI TERHADAP OBJEK
Encoding dan Decoding Wacana
Televisi
Dalam model televisual dari Hall, sirkulasi makna dalam
wacana televisual melewati tiga momenyang berbeda, masing-masing memiliki
kondisi eksistensi dan modalitasnya yang spesifik. Pertama, para professional
media memaknai wacana televisual dengan suatu laporan khusus merekatentang,
misalnya sebuah peristiwa sosial yang mentah. Pada momen dalam sirkuit ini
serangkaian cara melihat dunia(ideologi-ideologi) berada dalam kekuasaan.
Pada moment kedua, segara sesudah makna dan pesan berada pada wacana yang bermakna, yakni segera sesudah makna dan pesan itu mengambil bentuk wacana televisual, aturan formal bahasa dan wacana bebas dikendalikan, suatu pesan kini terbuka, misalnya bagi permainan polisemi.
Pada momen yang ketiga, momen decoding yang dilakukan oleh khalayak, serangkaian cara lain untuk melihat dunia (ideologi) bisa dengan bebas dilakukan. Seorang khalayak tidak dihadapkan pada peristiwa sosial mentah melainkan dengan terjemahan diskursif dari suatu peristiwa. Jika peristiwa itu bermakna bagi khalayak pastilah peristiwa itu menyertakan interpretasi dan pemahaman terhadap wacana. Jika tidak ada makna yang diambil maka boleh jadi tidak ada konsumsi.
Dengan kata lain, makna dan pesan tidak sewkedar ditrasmisikan, keduanya senantiasa diproduksi. Pertama oleh sang pelaku encoding bahan mentah kehidupan sehari-hari oleh khalayak dalam kaitannya dengan lokasinya pada wacana-wacana lainnya. Setiap moment itu pasti beroperasi dalam kondisi produksinya sendiri. Selain itu sebagaimana dijabarkan hall, momenencoding dan decoding mungkin tidak benar-benar simetris. Tidak ada yang senatiasa berkenaan dengan hasil dari proses apa yang dimaksudkan dan apa yang diterima boleh jadi tidak klop. Para professional median mungkin menginginkan decoding sama dengan encoding, namu mereka tidakbisa menjamin atau memastikan hal ini. Encoding dan decoding terbuka bagi resiprositas yang berubah-ubah, ditentukan oleh eksisitensi berbeda. Senantiasa ada kemungkinan dan kesalahpahaman.
Pada moment kedua, segara sesudah makna dan pesan berada pada wacana yang bermakna, yakni segera sesudah makna dan pesan itu mengambil bentuk wacana televisual, aturan formal bahasa dan wacana bebas dikendalikan, suatu pesan kini terbuka, misalnya bagi permainan polisemi.
Pada momen yang ketiga, momen decoding yang dilakukan oleh khalayak, serangkaian cara lain untuk melihat dunia (ideologi) bisa dengan bebas dilakukan. Seorang khalayak tidak dihadapkan pada peristiwa sosial mentah melainkan dengan terjemahan diskursif dari suatu peristiwa. Jika peristiwa itu bermakna bagi khalayak pastilah peristiwa itu menyertakan interpretasi dan pemahaman terhadap wacana. Jika tidak ada makna yang diambil maka boleh jadi tidak ada konsumsi.
Dengan kata lain, makna dan pesan tidak sewkedar ditrasmisikan, keduanya senantiasa diproduksi. Pertama oleh sang pelaku encoding bahan mentah kehidupan sehari-hari oleh khalayak dalam kaitannya dengan lokasinya pada wacana-wacana lainnya. Setiap moment itu pasti beroperasi dalam kondisi produksinya sendiri. Selain itu sebagaimana dijabarkan hall, momenencoding dan decoding mungkin tidak benar-benar simetris. Tidak ada yang senatiasa berkenaan dengan hasil dari proses apa yang dimaksudkan dan apa yang diterima boleh jadi tidak klop. Para professional median mungkin menginginkan decoding sama dengan encoding, namu mereka tidakbisa menjamin atau memastikan hal ini. Encoding dan decoding terbuka bagi resiprositas yang berubah-ubah, ditentukan oleh eksisitensi berbeda. Senantiasa ada kemungkinan dan kesalahpahaman.
Kesalahpahaman kedua inilah yang menarik hall,
menyitir karya sosiolog Frank Parkin (1971), ia menyarankan tiga posisi
hipotesis yang dari situ decoding terhadap wacana televisual bisa dibangun.
Posisi pertama ia sebut dengan posisi dominan-hegemonik. Posisi ini terjadi
tatkala pemirsa memetik makna yang dikonotasikan dari katakanlah siaran
televisi atau program peristiwa aktual secara penuh dan apa adanya, dan
mendecoding pesan berdasarkan kode acuan dimana ia di enciding, kita bisa
mangatakan bahwa penirsa beroperasi di dalam kode dominan. Mendecoding wacana
televisi dengan cara ini berarti berada dalam harmoni dengan kode profesional
broadcaster.
Posisi decoding kedua adalah kode atau posisi yang dinegosiasikan. Ini kemungkinan merupakan posisi mayoritas. Posisi ketiga yang diidentifikasikan hall adalah kode oposisional. Ini merupaka posisi yang diduduki oleh pemirsa yang mengakui kode wacana televisual yang disampaikan, tetapi memutuskan untuk melakukan decodiing dalam sebuah kerangka acuan alternatif.
Posisi decoding kedua adalah kode atau posisi yang dinegosiasikan. Ini kemungkinan merupakan posisi mayoritas. Posisi ketiga yang diidentifikasikan hall adalah kode oposisional. Ini merupaka posisi yang diduduki oleh pemirsa yang mengakui kode wacana televisual yang disampaikan, tetapi memutuskan untuk melakukan decodiing dalam sebuah kerangka acuan alternatif.
3.
RANGKUMAN
ANALISIS
Morley
memberikan sebuah rangkuman dan klarifikasi yang berguna tentang pemahamannya
sendiri terhadap model decoding hall sebagai berikut:
1. Produksi pesan penuh makna dalam wacana televisi senantiasa merupaka pekerjaan problematis. Peristiwa yang sama bisa diencoding melalui lebih dari astu macam cara. Sehingga kajian TV disini berkenaan dengan bagaimana dan mengapa struktur dan praktik produksi tertentu cenderung menghasilkan pesan tertentu, yang mewujudkan maknanya dalam bentu-bentuk tertentu dan berulang.
2. Pesan dalam komunikasi sosial selalu bersifat kompleks dalam hal stuktur dan bentuk. Ia senantiasa memuat lebih dari satu pembacaan potensial. Pesan menawarkan dan menganjurkan pembacaan tertentu atas pembacaan lainnya, namun pesan tidak pernah bisa menjadi sama sekali tertutup disekitar satu pembacaan. Pesan tetap bersifat polisemik.
3. Aktivitas memetik makna dari pesan juga merupakan sebuah praktik yang problematis, betapapun transparan dan natural tampaknya aktivita itu. Pesan meng-encoding satu car bisa senantiasa dibaca dengan cara yang berbeda.
BAB 4 PENUTUP
KESIMPULAN
Dapat saya simpulkan dekoding adalah kegiatan menerima pesan atau menyampaikan gagasan (informasi, saran, permintaan.) yang ingin disampikan kepada penerima dengan maksud tertentu. Untuk itu dia menterjemahkan gagasan tersebut menjadi simbol-simbol (proses encoding) yang selanjutnya disebut pesan (message). Pesan tersebut disampaikan melalui saluran (channel) tertentu misalnya dengan bertatap muka langsung, telepon, surat, dst. Setelah pesan sampai pada penerima, selanjutnya terjadi proses decoding, yaitu menafsirkan pesan tersebut. Setelah itu terjadilah respon pada penerima pesan. Respon tertuju pada pengirim pesan. Komunikasi sebagai proses dapat divisualisasikan dalam bentuk bagan sebagai berikut.
DAFTAR PUSTAKA
http://hendradinatha.blogspot.co.id/2015/01/bab-11-media-dan-budaya-dekoding-normal.html1. Produksi pesan penuh makna dalam wacana televisi senantiasa merupaka pekerjaan problematis. Peristiwa yang sama bisa diencoding melalui lebih dari astu macam cara. Sehingga kajian TV disini berkenaan dengan bagaimana dan mengapa struktur dan praktik produksi tertentu cenderung menghasilkan pesan tertentu, yang mewujudkan maknanya dalam bentu-bentuk tertentu dan berulang.
2. Pesan dalam komunikasi sosial selalu bersifat kompleks dalam hal stuktur dan bentuk. Ia senantiasa memuat lebih dari satu pembacaan potensial. Pesan menawarkan dan menganjurkan pembacaan tertentu atas pembacaan lainnya, namun pesan tidak pernah bisa menjadi sama sekali tertutup disekitar satu pembacaan. Pesan tetap bersifat polisemik.
3. Aktivitas memetik makna dari pesan juga merupakan sebuah praktik yang problematis, betapapun transparan dan natural tampaknya aktivita itu. Pesan meng-encoding satu car bisa senantiasa dibaca dengan cara yang berbeda.
BAB 4 PENUTUP
KESIMPULAN
Dapat saya simpulkan dekoding adalah kegiatan menerima pesan atau menyampaikan gagasan (informasi, saran, permintaan.) yang ingin disampikan kepada penerima dengan maksud tertentu. Untuk itu dia menterjemahkan gagasan tersebut menjadi simbol-simbol (proses encoding) yang selanjutnya disebut pesan (message). Pesan tersebut disampaikan melalui saluran (channel) tertentu misalnya dengan bertatap muka langsung, telepon, surat, dst. Setelah pesan sampai pada penerima, selanjutnya terjadi proses decoding, yaitu menafsirkan pesan tersebut. Setelah itu terjadilah respon pada penerima pesan. Respon tertuju pada pengirim pesan. Komunikasi sebagai proses dapat divisualisasikan dalam bentuk bagan sebagai berikut.
DAFTAR PUSTAKA

Tidak ada komentar:
Posting Komentar