Selasa, 12 Mei 2015

5 Goes To Media, STISIPOL CANDRADIMUKA PALEMBANG

      Museum Balaputra Dewa

 A.   Sejarah berdirinya Museum Balaputera Dewa
Balaputra dewa sendiri adalah nama seorang raja dari Kerajaan Sriwijaya.  Balaputra dewa memerintah pada abad VIII-IX masehi.  Balaputra dewa adalah raja yang paling terkenal dari Kerajaan Sriwijaya karena di masa pemerintahan beliaulah Kerajaan Sriwijaya mencapai puncak kejayaannya sebagai sebuah Kerajaan Maritime yang berkuasa hampir diseluruh Nusantara hingga mencapai Thailand, India, Filipina dan China.
            Memasuki pintu depan museum Balaputradewa kita akan langsung disuguhi dengan gambar atau relief kehidupan masyarakat Palembang yang dipanjang persis di depan dinding ruang masuk museum.  Relief kehidupan masyarakat Palembang tersebut menceritakan ada putri Palembang sedang menari Gending Sriwijaya yaitu tarian khas Palembang yang sering ditampilkan untuk menyambut tamu, tari Gending Sriwijaya sendiri pertama kali diperkenalkan pada 12 Agustus 1945.  Kemudian pada relief ada pula rumah Bari yaitu rumah lama khas Palembang.  Ada pula gambar rumah Limas yaitu rumah adat Palembang dimana di atasnya ada ornament tanduk kambing. 
           
   B.    Beberapa Contoh Koleksi Museum Balaputra Dewa
1.   Lesung Batu
Lesung Batu merupakan salah satu peninggalan megalitik, ditemukan di pagaralam, sumatera selatan. Benda seperti ini banyak ditemukan di situs-situs pagaralam dan lahat. Bentuk lesung batu umumnya memanjang dengan kedalaman lebih kecil dibandingkan dengan ukuran panjangnya. Pembuatannya dengan cara melubangi bagian tengah monolit ( satu batu utuh) dan meninggalkan sedikit di menumbuk biji-bijian, seperti padi atau jagung. Di lesung batu juga digunakan sebagai sarana pemujaan atau symbol kesuburan.
2.    Kerangka Manusia
Benda ini merupakan sisa-sisa tulang manusia yang diduga hidup pada masa berburu dan mengumpulkan tingkat lanjut. Pada masa ini mereka memilih gua-gua sebagai tempat tinggal. Fragmen tulang manusia ini di temukan di Desa Padang Bindu, Gua Pondok Salabe, Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan
3.Kepala Arca MegalitTanpa Tutup Kepala
               Perwujudan Arca ini memperlihatkan tipe masyarakat dari ras negrid. Secara keseluruhan gaya pahatannya bersifat statis dan oleh para ahli dimasukan ke dalam kelompok pengarcaan tipe primitive.  
4. Kepala Arca Megalit Pakai Tutup Kepala
           Perwujudan kepala arca ini menampilkan keperkasaan yang diperlihatkan oleh ekspresi wajah yang kuat, gambaran seorang prajurit.
     
Bukit Siguntang.
       Bukit Siguntang sejak zaman Kerajaan Sriwijaya sudah menjadi tempat yang sakral dan keramat.  Bukit Siguntang adalah sebuah tempat bersejarah dimana di sini dahulu merupakan tempat ibadah di zaman Kerajaan Sriwijaya.   Sepanjang mata memandang, saat memasuki tempat ini, terlihat pohon rindang dan kursi serta gazebo yang dibangun di sekeliling bukit.  Bukit Siguntang dijadikan tempat sembayang untuk penyembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa saat zaman Kerajaan Sriwijaya, dengan bukti ditemukannya patung Budha di bukit tersebut yang.  Kemudian saat runtuhnya Kerajaan Sriwijaya di abad 13 lalu muncul Kerajaan Palembang Darusalam, tempat ini (Bukit Siguntang) masih menjadi tempat yang sangat keramat karena sering dikunjungi oleh raja-raja Palembang dahulu sebagai tempat pertapaan atau semedi untuk menenangkan pikiran agar bisa mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa Sang Pencipta Kehidupan.
Disini kami berkunjung dan menyantap makan siang bersama-sama, salah satu kebersamaan kelas regular sore yang indah ketika dilakukan bersama-sama seperti ini.

PUNTI KAYU
Punti Kayu, adalah satu-satunya taman wisata alam  yang  menyajikan beberapa hiburan bernuansa hutan wisata untuk melengkapi wisata di kota Palembang. Dengan  Luas sekitar 50 hektar, dulunya ditetapkan sebagai hutan lindung, dan sekarang sudah menjadi objek wisata terbuka.
Punti Kayu, berlokasi di Jl. Kol.H.Burlian, kecamatan Sukarami Palembang. Berjarak sekitar 7 km dari pusat kota. Akses menuju ketempat ini, jika dari pusat kota/ Ampera, jalan lurus melalui Jl. Jend.Sudirman sampai ke KM 7. Jika menggunakan angkutan umum, naik angkot KM 5 yang lebih akrab disebut angkot ‘palimo’ (berwarna merah) dari pusat kota, turun di pasar palimo. Dilanjutkan dengan naik angkot jurusan talang betutu (warna krem) dan berhenti di depan Punti Kayu.
Sedikit pengalaman saya disini mengetahui akan indahnya hutan jika di jadikan tempat wisata dan terus di lestarikan, dari generasi ke geranasi lain.
Percetakan Sumatera Ekspress
Saat tiba Di Gedung Sumatera Ekspress kami disambut langung  oleh bapak Anton Narasoma yang merupakan wartawan senior di Harian Pagi Sumatera Eskpres, beliau dengan senang hati menyambut kedatangan kami. Kami mendapatkan ilmu yang sangat menambahkan wawasan kami tentang seputar dunia jurnalistik, bagaimana cara mendapatkan berita dan mengolah berita tersebut agar menjadi berita yang cerdas dan mempunyai daya tarik bagi masyarakat yang membaca nya dan  bagaimana proses koran tersebut bisa sampai ketangan masyarakat.
Sebelum koran sampai ketangan masyarakat ternyata banyak proses yang harus di lalui,pertama mulai dari pengumpulan data kemudian editing dan akhirnya kepercetakan. Berita yang ingin disampaikan kepada masyarakat adalah  berita yang benar-benar fakta bukan fiksi.

Bapak Anton Narasoma juga bercerita menambahkan bahwa Sumeks ini berdiri sejak 18 February 1960 dan sampai sekarang SUMEKS dipercaya oleh masyarakat Sumatera Selatan .
Tak hanya itu, kami juga di berikan motivasi agar selalu semangat dalam meraih cita- cita kami dan selalu semangat dalam melakukan segala hal. Kunjungan ini terasa sangat bersahabat, jadi kami para mahasiswa-mahasiswi bisa sharing mengenai proses percetakan, selain itu kami di ajak ke ruangan percetakan yang di pimpin langung oleh pak Anton dan pak Anton juga bercerita bahwa ternyata koran dicetak pada saat malam hari bukan siang atau pagi. “Waw, jadi harus punya tenaga yang ekstra ya”.
Pokoknya seru sekali kunjungan STISIPOL CANDRADIMUKA kali ini, semoga suatu saat nanti bisa berkunjung kesini lagi, Itulah sedikit cerita seru dari saya sebagai salah satu mahasiswa STISIPOL CANDRADIMUKA PALEMBANG.

Al Quran Al Akbar Gandus.
Al Quran Raksasa berhasil dipahat/diukir ala khas Palembang dalam lembar kayu dan menghabiskan kurang lebih 40 meter kubik kayu tembesu dengan biaya tidak kurang Rp 2 miliar, dimana masing-masing lembar ukuran halamannya 177 x 140 x 2,5 sentimeter dan tebal keseluruhannya termasuk sampul mencapai 9 meter.
Anda juga dapat mengunjungi ruang pamer Al Quran Raksasa yang dinamai Al Quran Al Akbar ini di kompleks Pondok Pesantren IGM di kawasan Gandus setiap hari pada pukul 09.00-17.00, tepatnya di daerah Suak Bujang  kecamatan Gandus Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan.

Lebih jelasnya anda dapat melihat pemukiman di bawah jembatan Musi II yang membentang sungai Musi Palembang. Ujung jembatan tersebut sudah merupakan wilayah kawasan Gandus, silahkan lihat GPS atau bertanya pada penduduk sekitar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar