Museum Balaputra Dewa
A. Sejarah berdirinya Museum Balaputera Dewa
Balaputra dewa sendiri adalah
nama seorang raja dari Kerajaan Sriwijaya. Balaputra dewa memerintah pada
abad VIII-IX masehi. Balaputra dewa adalah raja yang paling terkenal dari
Kerajaan Sriwijaya karena di masa pemerintahan beliaulah Kerajaan Sriwijaya
mencapai puncak kejayaannya sebagai sebuah Kerajaan Maritime yang berkuasa
hampir diseluruh Nusantara hingga mencapai Thailand, India, Filipina dan China.
Memasuki pintu depan museum Balaputradewa kita akan langsung disuguhi dengan
gambar atau relief kehidupan masyarakat Palembang yang dipanjang persis di
depan dinding ruang masuk museum. Relief kehidupan masyarakat Palembang
tersebut menceritakan ada putri Palembang sedang menari Gending Sriwijaya yaitu
tarian khas Palembang yang sering ditampilkan untuk menyambut tamu, tari
Gending Sriwijaya sendiri pertama kali diperkenalkan pada 12 Agustus
1945. Kemudian pada relief ada pula rumah Bari yaitu rumah lama khas Palembang.
Ada pula gambar rumah Limas yaitu rumah adat Palembang dimana di atasnya ada
ornament tanduk kambing.
B. Beberapa Contoh Koleksi Museum Balaputra Dewa
1. Lesung Batu
Lesung Batu merupakan salah
satu peninggalan megalitik, ditemukan di pagaralam, sumatera selatan. Benda
seperti ini banyak ditemukan di situs-situs pagaralam dan lahat. Bentuk lesung
batu umumnya memanjang dengan kedalaman lebih kecil dibandingkan dengan ukuran
panjangnya. Pembuatannya dengan cara melubangi bagian tengah monolit ( satu
batu utuh) dan meninggalkan sedikit di menumbuk biji-bijian, seperti padi atau
jagung. Di lesung batu juga digunakan sebagai sarana pemujaan atau symbol
kesuburan.
2. Kerangka Manusia
Benda ini merupakan sisa-sisa
tulang manusia yang diduga hidup pada masa berburu dan mengumpulkan tingkat
lanjut. Pada masa ini mereka memilih gua-gua sebagai tempat tinggal. Fragmen
tulang manusia ini di temukan di Desa Padang Bindu, Gua Pondok Salabe, Ogan Komering
Ulu, Sumatera Selatan
3.Kepala Arca MegalitTanpa Tutup Kepala
Perwujudan Arca ini
memperlihatkan tipe masyarakat dari ras negrid. Secara keseluruhan gaya
pahatannya bersifat statis dan oleh para ahli dimasukan ke dalam kelompok
pengarcaan tipe primitive.
4. Kepala Arca Megalit
Pakai Tutup Kepala
Perwujudan kepala arca ini
menampilkan keperkasaan yang diperlihatkan oleh ekspresi wajah yang kuat,
gambaran seorang prajurit.
Bukit
Siguntang.
Bukit
Siguntang sejak zaman Kerajaan Sriwijaya sudah menjadi tempat yang sakral dan
keramat. Bukit Siguntang adalah sebuah tempat bersejarah dimana di sini
dahulu merupakan tempat ibadah di zaman Kerajaan Sriwijaya. Sepanjang mata memandang, saat memasuki
tempat ini, terlihat pohon rindang dan kursi serta gazebo yang dibangun di
sekeliling bukit. Bukit Siguntang dijadikan tempat sembayang untuk
penyembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa saat zaman Kerajaan Sriwijaya, dengan
bukti ditemukannya patung Budha di bukit tersebut yang. Kemudian saat
runtuhnya Kerajaan Sriwijaya di abad 13 lalu muncul Kerajaan Palembang
Darusalam, tempat ini (Bukit Siguntang) masih menjadi tempat yang sangat
keramat karena sering dikunjungi oleh raja-raja Palembang dahulu sebagai tempat
pertapaan atau semedi untuk menenangkan pikiran agar bisa mendekatkan diri
kepada Tuhan Yang Maha Esa Sang Pencipta Kehidupan.
Disini kami berkunjung dan menyantap makan
siang bersama-sama, salah satu kebersamaan kelas regular sore yang indah ketika
dilakukan bersama-sama seperti ini.
PUNTI KAYU
Punti Kayu, adalah satu-satunya taman wisata alam
yang
menyajikan beberapa hiburan bernuansa hutan wisata untuk melengkapi
wisata di kota Palembang. Dengan Luas
sekitar 50 hektar, dulunya ditetapkan sebagai hutan lindung, dan sekarang sudah
menjadi objek wisata terbuka.
Punti Kayu, berlokasi di Jl. Kol.H.Burlian, kecamatan Sukarami
Palembang. Berjarak sekitar 7 km dari pusat kota. Akses menuju ketempat ini, jika
dari pusat kota/ Ampera, jalan lurus melalui Jl. Jend.Sudirman sampai ke KM 7.
Jika menggunakan angkutan umum, naik angkot KM 5 yang lebih akrab disebut
angkot ‘palimo’ (berwarna merah) dari pusat kota, turun di pasar palimo.
Dilanjutkan dengan naik angkot jurusan talang betutu (warna krem) dan berhenti
di depan Punti Kayu.
Sedikit pengalaman saya disini mengetahui akan indahnya hutan jika
di jadikan tempat wisata dan terus di lestarikan, dari generasi ke geranasi
lain.
Percetakan Sumatera Ekspress
Saat tiba Di Gedung Sumatera Ekspress
kami disambut langung oleh bapak Anton Narasoma yang
merupakan wartawan senior di Harian Pagi Sumatera Eskpres, beliau dengan senang
hati menyambut kedatangan kami. Kami mendapatkan ilmu yang sangat menambahkan wawasan
kami tentang seputar dunia jurnalistik, bagaimana cara mendapatkan berita dan
mengolah berita tersebut agar menjadi berita yang cerdas dan mempunyai daya
tarik bagi masyarakat yang membaca nya dan bagaimana proses koran
tersebut bisa sampai ketangan masyarakat.
Sebelum koran sampai ketangan masyarakat ternyata banyak
proses yang harus di lalui,pertama mulai dari pengumpulan data kemudian editing
dan akhirnya kepercetakan. Berita yang ingin disampaikan kepada masyarakat
adalah berita yang benar-benar fakta bukan fiksi.
Bapak Anton Narasoma juga bercerita menambahkan bahwa
Sumeks ini berdiri sejak 18 February 1960 dan
sampai sekarang SUMEKS dipercaya oleh masyarakat Sumatera Selatan .
Tak hanya itu, kami juga di berikan motivasi agar selalu
semangat dalam meraih cita- cita kami dan selalu semangat dalam melakukan
segala hal. Kunjungan ini terasa sangat bersahabat, jadi kami para mahasiswa-mahasiswi
bisa sharing mengenai proses percetakan, selain itu kami di ajak ke ruangan
percetakan yang di pimpin langung oleh pak Anton dan pak Anton juga bercerita
bahwa ternyata koran dicetak pada saat malam hari bukan siang atau pagi. “Waw,
jadi harus punya tenaga yang ekstra ya”.
Pokoknya seru sekali kunjungan STISIPOL CANDRADIMUKA kali
ini, semoga suatu saat nanti bisa berkunjung kesini lagi, Itulah sedikit cerita
seru dari saya sebagai salah satu mahasiswa STISIPOL CANDRADIMUKA PALEMBANG.
Al Quran Al Akbar Gandus.
Al Quran Raksasa berhasil dipahat/diukir ala
khas Palembang dalam lembar kayu dan menghabiskan kurang lebih 40 meter kubik
kayu tembesu dengan biaya tidak kurang Rp 2 miliar, dimana masing-masing lembar
ukuran halamannya 177 x 140 x 2,5 sentimeter dan tebal keseluruhannya termasuk
sampul mencapai 9 meter.
Anda juga dapat mengunjungi ruang pamer Al
Quran Raksasa yang dinamai Al Quran Al Akbar ini di kompleks Pondok Pesantren
IGM di kawasan Gandus setiap hari pada pukul 09.00-17.00, tepatnya di daerah
Suak Bujang kecamatan Gandus Kota
Palembang, Provinsi Sumatera Selatan.
Lebih jelasnya anda dapat melihat pemukiman di
bawah jembatan Musi II yang membentang sungai Musi Palembang. Ujung jembatan
tersebut sudah merupakan wilayah kawasan Gandus, silahkan lihat GPS atau
bertanya pada penduduk sekitar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar